gigih pustaka mandiri
MENERBITKAN KEGIGIHAN & KEMANDIRIAN
Minggu, 13 Mei 2012
Selasa, 08 Mei 2012
Segera MELUNCUR....
INILAH puisi-puisi cinta,
puisi-puisi percintaan, sang Kiai. Cinta dan percintaan ilahiah:
antara manusia dan alam, antara manusia dan manusia, serta (memuncak
pada pendambaan penuh “nyeri rindu”) antara manusia dan Sang
Pencipta Segala Perasaan. Mabuk cinta mengejawantah dalam wujud rasa
asih pada alam, rasa sayang pada sesama, kangen yang ngungun
pada Nabi Junjungan. Lalu, semua rasa dan perwujudan rasa itu menemu
format laku: pelayanan.
Bukankah ketika kita mencintai, apa
pun kita perbuat, apa pun kita persembahkan, hanya untuk siapa atau
apa yang kita cintai? Kita mengabdikan sepenuh seluruh hidup: hanya
kepada dia. Kepada dia, kita sanggup berlaku jujur, apa adanya.
Kepada dia, kita tak bakal menduakan. Hanya kepada dia, ya, kepada
dialah, kita menujukan seluruh perhatian, sepenuh perasaan. Tak
hendak kita “berpaling ke lain hati”.
Lebay, berlebihan? Mungkin.
Namun, senyatanya, begitu pulalah energi cinta yang tertangkup dalam
keseluruhan puisi sang Kiai ini. Dan siapa pula Dia, yang dicintai
aku lirik sepenuh seluruh itu? Kepada siapa, aku lirik mengunjukkan
semua pelayanan itu? Dialah Sang Mahacinta. Aku lirik mencintai Dia
dan mewujudkannya melalui pelayanan kepada sesama. Itulah yang
terwartakan. Itulah yang tergambarkan. Kepada Dia dan hanya untuk
“menggembirakan” Dia, aku lirik menujukan semua ucapan, semua
tindakan pelayanan.
Kamis, 16 Februari 2012
Selasa, 07 Februari 2012
Segera Terbit: Nglalap Uang Rakyat!

WIDYO LEKSONO yang sehari-hari punya sapaan akrab Babahe lahir di Jepara, Desember 1960. Karena ayah ibunya berasal dari Pati, bolehlah pula disebut dia asli Pati. Ketika SD, dia sangat suka membaca majalah Panjebar Semangat. Maka tak mengherankan jika kemudian dia juga suka menulis dalam bahasa Jawa.
Dunia tulis-menulis dia terjuni dengan melahirkan naskah drama pada tahun 1995, namun masih dalam bahasa Indonesia. Tahun 1998, dia mulai menulis dalam bahasa Jawa yang kemudian menjadi buku kumpulan cerita berjudul Gayor. Cerita-cerita lain yang lahir dari tangannya antara lain Sekarat (2004), Bardji – Barbeh (2004), Kandheg (2005), Layang Tlegaram ing Malem Lebaran (2007), Genaon Kentrung (2007), Maknane Kekancan (2010), lan Wedi Disunati (2010).
Dia juga menulis dongeng dalam bahasa Jawa, antara lain Roro Jonggrang Nagih Janji, Nawang Wulan Bali Kayangan, Lutung Kasarung, Ciung Wanara, dan Naga Baru Klinthing yang menjadi buku pada tahun 2008. Ada lima cerita yang dia tulis tahun 2009 namun belum dibukukan yaitu Laskar Egrang, Gawe Dolanan, Nemu Gogor, Macan Mberung, dan Nyadran.
Babahe menulis cerita, dongeng, dan drama dalam bahasa Jawa dengan satu harapan anak-anak sekarang bisa belajar bahasa dan sastra Jawa tanpa kesulitan, apalagi terpaksa. Termasuk, tentu saja, menulis atau minimal membaca geguritan.
Kamis, 19 Januari 2012
Ini Bukan Pertunjukan Biasa
INI pertunjukan penutup sekaligus pembuka. Penutup perjalanan keliling buku Nyanyian Penggali Kubur karya Gunawan Budi Susanto ke kampus-kampus dan komunitas sastra sepanjang November-Desember 2011. Pembuka perjalanan berikutnya, mungkin ke sekolah-sekolah dan kantong budaya. Penutup masa-masa gelap Indonesia sebagai sebuah bangsa merdeka, masa-masa pembunuhan terhadap yang berbeda. Pembuka pintu rumah kedamaian, Rumah Indonesia yang menenteramkan karena saling mengerti, saling peduli, saling mencintai –bukan saling membenci, apalagi saling bunuh atas nama apa pun yang mungkin malah sangat pribadi.
Hadir dan jadilah saksi…
Rabu, 30 November 2011
Pentas & Diskusi Pemanggungan Sastra
Jumat, 18 November 2011
Mari Berdiskusi dan Menemukan Kebenaran
Gunawan Budi Susanto lahir di Padangan, Bojonegoro, Jawa Timur, 11 Juli 1961. Anak ketiga dari enam bersaudara ini menempuh pendidikan sejak TK hingga SMA di Blora. Kuliah di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Undip Semarang, lulus tahun 1995. Dia menulis cerpen, puisi, esai, kolom, artikel, dan liputan. Buku yang terbit sebelum kumpulan cerpen Nyanyian Penggali Kubur (2011) adalah kumpulan kolom Kesaksian Kluprut (1996) dan Edan-edanan pada Zaman Edan (2008). Selain bekerja sebagai jurnalis, dia juga terlibat sebagai sukarelawan dalam pemberdayaan komunitas seni dan budaya. Di jejaring sosial Facebook, dia menggunakan nama populernya: Kang Putu.
Langganan:
Entri (Atom)






